Kritik Sastra Cerpen Hutan Merah Karya Fauzia A.
Nama : Aisah Nurhasanah
NPM : P12022093
Dosen Pengampu : Taiman, M.Pd.
Hutan Merah karya Fauzia. A
Matahari bersinar terik di Lampung. Sinarnya terhalang rimbunnya pepohonan, sehingga hanya menyisakan berkas tipis. Burung-burung berkicau seolah sedang menyanyikan lagu untuk alam. Bunyi riak jernih sungai beradu dengan batu kali berpadu dengan sahutan dari beberapa penghuni hutan yang lainnya. Ya, inilah tempat tinggal Bora, si anak gajah Lampung yang sekarang tengah asyik bermain bersama teman-temannya di sebuah sungai.
Ketika Bora menyemprotkan air ke arah Dodo—anak gajah lainnya—dengan belalainya, ia pun memekik nyaring. Sampai akhirnya, kegembiraan mereka terpecah oleh bunyi bising dari sebelah utara hutan. Bunyi bising itu bercampur dengan deru sesuatu yang sama sekali tidak Bora kenal.
“Hei, lihat itu!”
Semua serentak menghentikan kegiatan mereka dan menengok ke langit yang ditunjuk Dodo. Asap hitam tebal yang membumbung tinggi dari sana. Asap itu semakin tebal dan terus menebal. Itu merupakan fenomena aneh yang baru pertama kali mereka saksikan. Selama ini yang mereka tahu, langit selalu berwarna biru cerah dengan awan putih berarakan.
Keheningan hutan itu kemudian pecah saat Teo tiba-tiba saja datang sambil memekik nyaring, “Hutan terbakar! Hutan terbakar!”
Semua ikut memekik ketakutan. Hutan terbakar! Tempat tinggal mereka terbakar!
“Bora! Apa yang kau lakukan!? Cepat pergi!” Pipin berteriak sambil menarik belalai Bora dengan belalainya..
Suasana hutan yang tadinya damai tenteram, seketika menjadi neraka bagi semua hewan. Asap hitam pekat yang mulai menyelimuti seluruh hutan ini. Suhu udara mulai panas, membuat para hewan makin berteriak nyaring.
Bora panik bukan main. Sambil mengikuti langkah Pipin, matanya bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok ibunya.
“Pipin! Di mana ibuku?” tanya Bora.
“I-ibu … ibumu ….” Pipin tidak bisa menjawab karena sama-sama tidak tahu di mana ibu Bora berada.
“Aku harus kembali ke sarang!” Bora melepaskan belalainya dari belalai Pipin, lalu berbalik untuk kembali ke sarangnya.
Namun, sebelum Bora melancarkan niatnya itu, Pipin sudah menarik kembali belalainya. “Ibumu pasti sudah berada di depan. Bersama gajah dewasa lainnya.”
Bora menghiraukan ucapan Pipin, lalu kembali meloloskan belalainya dan berlari sekuat mungkin menuju sarangnya.
“Bora!” Pipin berteriak di belakangnya.
Bora sampai di dekat sarangnya berada dengan napas terengah. Ia langsung membelalakkan mata begitu melihat sosok ibunya sedang bersusah payah keluar dari sarang. Api sudah menjalar di setiap pohon di dekat sarangnya itu.
“Ibu!” teriak Bora sekuat tenaga.
“Sedang apa kamu?! Cepat pergi dari sini!” teriak ibu Bora sambil menggerakkan belalainya, menyuruh Bora menjauh dari tempat ini.
“Tidak! Aku tidak mau!” balas Bora keras kepala. Kenapa ibunya masih bisa berkata seperti itu? Padahal jelas-jelas ia dalam keadaan terjebak api?
“Cepat pergi, Bora!”
“Bora! Ayo pergi!” Tiba-tiba saja Pipin datang ke tempatnya dan langsung menarik belalai Bora.
“Tidak mau!” Bora menyentak belalai Pipin keras. “Ibu! Aku akan menyelamatkanmu!”
“Jangan, Bora!” bentak Pipin
Kraaak! Braaak!
“IBU!! IBU!!” Bora terus meraung memanggil ibunya. Pohon yang sedang terbakar itu jatuh dan kemudian menimpa tubuh payah ibu Bora.
“Ayo, Bora, kita harus pergi,” lirih Pipin sambil menarik Bora.
Sekali lagi Bora menoleh ke belakang saat dirinya sudah cukup jauh dari sarangnya. Tidak ada lagi hutan hijau dengan tumbuhan rindang di sekitarnya. Hutan hijau yang selalu ia kagumi sudah berubah menjadi hutan merah yang sangat panas.
****
Berikut ini adalah analisis unsur intrinsik dan ekstrinsik dari cerita "Hutan Merah" karya Fauzia :
Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra dari dalam cerita itu sendiri, meliputi tema, tokoh dan penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan amanat.
Tema
Tema utama cerita ini adalah perjuangan untuk bertahan hidup di tengah bencana alam, yakni kebakaran hutan. Tema ini menyoroti bagaimana kebakaran hutan membawa perubahan besar terhadap kehidupan hewan-hewan, termasuk Bora dan keluarganya.
Tokoh dan Penokohan
Bora: Tokoh utama, seekor anak gajah yang pemberani, keras kepala, dan sangat menyayangi ibunya. Ia ingin menyelamatkan ibunya meski berada dalam bahaya.
Pipin: Teman Bora yang setia dan berusaha menyelamatkan Bora dari bahaya. Pipin memiliki sifat yang peduli, sabar, dan selalu berusaha menjaga teman-temannya.
Ibu Bora: Sosok ibu yang penyayang dan rela mengorbankan dirinya untuk keselamatan anaknya. Ia menunjukkan kasih sayang seorang ibu yang kuat meskipun dalam situasi sulit.
Dodo: Anak gajah yang menjadi teman Bora. Ia adalah pengamat yang jeli dan cepat menyadari adanya ancaman kebakaran.
Alur
Alur yang digunakan adalah alur maju, dengan urutan peristiwa yang bergerak maju tanpa adanya kilas balik. Rangkaian peristiwanya adalah:
Pengenalan: Menceritakan suasana hutan dan kehidupan damai Bora serta teman-temannya.
Pemunculan Konflik: Munculnya asap hitam di hutan yang menandakan adanya kebakaran.
Puncak Konflik: Bora yang berusaha mencari ibunya di tengah api yang semakin membesar.
Antiklimaks: Ibu Bora terjebak dan tertimpa pohon yang terbakar.
Penyelesaian: Bora terpaksa meninggalkan hutan bersama Pipin dan melihat hutan yang telah berubah menjadi "hutan merah".
Latar (Setting)
Latar Tempat: Hutan di Lampung, terutama di sekitar sungai tempat Bora bermain dan sarang tempat tinggal ibu Bora.
Latar Waktu: Terjadi pada siang hari ketika matahari bersinar terik, hingga situasi menjadi gelap dan penuh asap karena kebakaran.
Latar Suasana: Berawal dari suasana damai di hutan yang kemudian berubah menjadi suasana tegang dan penuh ketakutan akibat kebakaran.
Sudut Pandang
Cerita ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu, di mana narator tidak terlibat dalam cerita tetapi mengetahui semua perasaan dan pikiran tokoh-tokohnya.
Amanat
Cerita ini mengajarkan tentang pentingnya keberanian dan cinta kasih dalam menghadapi situasi sulit. Selain itu, ada pesan moral mengenai pentingnya menjaga alam agar bencana seperti kebakaran hutan tidak merusak kehidupan makhluk-makhluk yang tinggal di dalamnya.
Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur yang berasal dari luar cerita tetapi memengaruhi isi cerita, seperti latar belakang pengarang, nilai sosial, nilai lingkungan, dan nilai moral.
Latar Belakang Pengarang
Pengarang mungkin terinspirasi oleh kejadian nyata tentang kebakaran hutan yang sering terjadi di Indonesia, termasuk di Sumatra dan Kalimantan, yang merusak habitat satwa liar seperti gajah. Cerita ini menggambarkan bagaimana hewan-hewan harus berjuang untuk bertahan hidup saat habitatnya terancam.
Nilai Sosial
Terdapat nilai sosial tentang kepedulian dan persahabatan. Pipin yang berusaha menyelamatkan Bora menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam situasi sulit. Sikap tolong-menolong dan solidaritas menjadi elemen penting yang ditampilkan dalam cerita ini.
Nilai Lingkungan
Nilai lingkungan sangat dominan dalam cerita ini. Kebakaran hutan yang terjadi menjadi peringatan akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Cerita ini mengilustrasikan dampak kebakaran hutan terhadap kehidupan satwa liar, yang kehilangan tempat tinggalnya dan harus berjuang untuk bertahan hidup.
Nilai Moral
Cerita ini mengajarkan bahwa kita perlu memiliki kasih sayang terhadap keluarga dan pentingnya kepedulian terhadap lingkungan. Bencana yang disebabkan oleh kebakaran hutan mengingatkan kita tentang dampak negatif dari perusakan alam.
Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan
Penggambaran Emosional yang Kuat: Cerita ini mampu menggugah emosi pembaca dengan penggambaran kepanikan hewan-hewan dan perjuangan Bora mencari ibunya. Hal ini membuat pembaca dapat merasakan ketegangan dan kesedihan yang dialami para tokoh.
Pesan Moral yang Mendalam: Cerita ini menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan dengan cara yang sederhana namun menyentuh hati. Kehilangan tempat tinggal akibat kebakaran hutan menjadi pengingat bagi manusia untuk lebih peduli terhadap alam.
Penggunaan Latar yang Menarik: Latar hutan di Lampung yang dijelaskan dengan detail menambah kedalaman cerita, sehingga pembaca dapat membayangkan suasana damai sebelum berubah menjadi mencekam saat kebakaran terjadi.
Kekurangan
Karakterisasi yang Terbatas: Beberapa tokoh seperti Dodo dan Teo hanya muncul secara singkat dan tidak memiliki perkembangan karakter yang signifikan. Hal ini membuat peran mereka tidak terlalu berpengaruh dalam perkembangan cerita.
Akhir Cerita yang Terburu-buru: Penyelesaian cerita ketika Bora harus meninggalkan hutan terasa agak terburu-buru, sehingga momen perpisahan dengan ibunya tidak sepenuhnya tergali secara emosional. Pengembangan yang lebih panjang bisa menambah kedalaman emosi cerita.
Kurangnya Penjelasan Asal Usul Kebakaran: Cerita tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang penyebab kebakaran hutan, yang bisa menjadi elemen tambahan untuk memperkuat pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Simpulan
Cerita "Hutan Merah" karya Fauzia menggambarkan perjuangan seekor anak gajah bernama Bora dalam menghadapi kebakaran hutan yang melanda tempat tinggalnya. Dengan tema yang kuat tentang perjuangan hidup dan pesan penting mengenai kelestarian alam, cerita ini berhasil menggugah kesadaran pembaca tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan. Meskipun terdapat beberapa kekurangan dalam karakterisasi dan akhir cerita, "Hutan Merah" tetap berhasil memberikan dampak emosional yang mendalam dan pesan moral yang relevan terhadap kondisi lingkungan saat ini. Cerita ini menjadi cermin bagi manusia agar lebih peduli terhadap alam dan kehidupan makhluk hidup di sekitarnya.

Komentar
Posting Komentar